Cara paling mendasar yaitu dengan memberi dan menumbuhkan terus semangat anak-anak sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan dan juga menjauhi sikap manja dan memanjakan. Di Jepang, pada umumnya anak bayi mulai umur sekitar 1 tahun sudah bisa dititipkan di tempat penitipan anak bila kedua orang tuanya bekerja dan biasanya pula anak tersebut dijemput setelah orangtuanya selesai bekerja sekitar pukul 5 sore atau lebih.
Sampai usia taman-kanak biasanya anak-anak tersebut diajar lebih banyak cara-cara hidup dan bermain-main dengan segala jenis kemampuan, seperti meloncat, berlari dan juga kemampuan olahraga dasar lainnya. Bahkan pelajaran naik sepeda roda satu atau duapun juga diajarkan di Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak. Menurut para ahli di Jepang, kegiatan seperti itu dan juga berbagai kegiatan bermain yang menyenangkan dan bersemangat sangat dianjurkan diberikan kepada anak-anak sebelum masuk Sekolah Dasar untuk melatih kebebasan, karena dengan bermain mereka juga belajar. Singkatnya, si anak tanpa bermain atau kurangnya waktu dan jenis kegiatan maka akan menghambat perkembangannya. Hal inilah yang kelihatannya berbeda dengan cara mengajar dan mendidik anak di Indonesia, yang mana terlalu singkat sekali jam belajar di Taman Kanak-kanak dan kebanyakan diberi sikap manja dengan cara menunggui anak selama berada di sekolah. Di saat mengajar anak tersebut sering sekali baik orang tua anak di Jepang ataupun guru di Taman Kanak-kanak tidak langsung mengendong atau menolong bangun bila anak tersebut pada waktu bermain jatuh dan menangis, tetapi mereka akan membiarkan si anak bangkit dari jatuhnya sendiri dan belajar bersemangat dengan kekuatannya sendiri tanpa bergantung kepada orang yang ada di sekitarnya. Hal ini pula yang berbeda dengan sikap para orang tua dan guru Taman Kanak-kanak di Indonesia yang selalu memanjakan anak karena cepat merasa kasihan.
Jika membicarakan mengajar yang menyenangkan kepada anak, maka tidak terlepas dari kegiatan bernyanyi dan menari. Kebanyakan guru-guru Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak di Jepang disyaratkan harus bisa bermain alat musik khususnya piano. Diyakini juga oleh para ahli pendidikan anak di Jepang, dengan mengajar melatih anak mendengarkan musik dalam berkegiatan di sekolah, maka anak akan merasa bersemangat dan terlatih daya ingatnya dengan irama musik dan gerakan-gerakan yang menyertainya. Perbedaan seperti ini pula yang terlihat di Indonesia yang kebayakan guru TK tidak disyaratkan seperti itu tetapi malah dengan syarat yang lain seperti harus mampu bicara bahasa asing.
Menginjak usia Sekolah Dasar (SD), anak-anak Jepang lebih serius dididik dan disemangati sepanjang mereka belajar di sekolah. Dari segi materi pelajaran lebih banyak diajarkan tentang ilmu-ilmu dan dari segi pelajaran kemandirian dan semangat lebih ditekankan. Di Jepang, sistem masuk Sekolah Dasar diatur pemerintah, yang salah satunya siswa yang bersekolah di SD tertentu adalah anak-anak yang tinggal di sekitar komplek sekolah itu berada. Dengan begitu, anak-anak disyaratkan harus berangkat dan pulang dari sekolah berjalan kaki bersama teman-temannya yang rumahnya berdekatan. Siswa yang terbesar dalam kelompok itu ditunjuk sebagai pemimpinnya dan harus bertangggungjawab. Hal ini yang berbeda dengan cara bersekolah di Indonesia, yang mana banyak siswa yang sekolahnya berada jauh dengan rumahnya dan harus diantar oleh orang tuanya dan tidak jarang sampai di sekolah sudah capek dan kurang semangat.
Anak-anak usia Sekolah Dasar di Jepang juga selalu dituntut bersemangat, salah satunya selalu diberi ucapan bahasa Jepang “Gambatte Kudasai” yang artinya “Bersemangatlah” atau “Berusahalah” atau “Berjuanglah”. Kata-kata penyemangat seperti itu sudah menjadi kebudayaan Jepang yang mana siapapun, di manapun dan dalam suasana apapun selalu diucapkan untuk saling menyemangati dalam berusaha memperoleh hasil yang lebih baik. Apakah hal semacam ini juga bisa diterapkan di Indonesia atau malah saling menghambat untuk tujuan menonjolkan diri?
Kata-kata dan kegiatan menyemangati anak-anak Jepang tersebut tidak akan berhasil bila tidak ditunjang dengan suasana dan keadaan yang mendukungnya. Karena hal tersebut, pemerintah Jepang melalui Departemen Pendidikan meng-kampanye-kan suatu program kepada pelajar di Jepang, serta orang tua mereka. Program tersebut berbentuk slogan kata-kata “Hayane, Hayaoki, Asagohan” yang berarti “Tidur Cepat, Bangun Cepat, Makan Pagi”.
Program dan slogan seperti itu tahun ini di Perfectur Kyoto sangat menarik dibuatnya, yang mana pamphlet-nya disebarkan atau dibagikan dengan foto-foto dan pesan penyemangat dari para pemain sepakbola J-League yang terkenal seperti Nagatomo, Endo, Honda dan lainnya. Hal ini dimaksudkan ingin memberitahukan kepada anak-anak bahwa semangat dan kesuksesan mereka, yaitu para pemain sepakbola itu berkat melaksanakan program kedisiplinan dengan slogan tersebut. Suatu kebiasaan di Jepang jika seseorang sukses selalu membagikan pengalaman dan cara-cara mencapainya dengan semangat kepada anak-anak khususnya siswa Sekolah Dasar.
Kenapa Departemen Pendidikan Jepang sampai harus mengumandangkan slogan ”Hayane, Hayaoki, Asagohan”? Pertama, berdasarkan hasil survey yang menyatakan bahwa jumlah kejahatan anak dan remaja yang semakin banyak. Misalnya tahun 2004 terdapat 134.852 kasus kejahatan anak dan remaja. Selain itu juga dirasakan ritme kehidupan anak-anak yang semakin “ngawur”. Misalnya adanya balita yang tidur sesudah jam 10 malam jumlahnya semakin bertambah. Dalam survey tahun 1990 diketahui bahwa jumlah yang sebesar 31% itu, 10 tahun kemudian (th 2000) menjadi 50%. Jumlah murid SD yang tidak makan pagi juga dibandingkan 5 tahun sebelumnya terlihat penambahan yang mencolok.. Dari hasil survey masalah tersebut diketahui bahwa murid SD yang selalu makan pagi, tes atau ujiannya cenderung mendapat nilai yang tinggi. Demikian pula dengan hasil survey mengenai anak yang kurang tidur dan banyak begadang akan sulit bersemangat. Masalah seperti ini sangat serius ditangani oleh pemerintah jepang bekerjasama dengan guru dan orang tua murid. Apakah pemerintah Indonesia juga bisa tegas melaksanakan pendidikan dasar yang menumbuhkan semangat anak-anak Indonesia secara terus menerus?
Kelanjutan dari pemberian dan penumbuhan semangat kepada anak-anak Jepang, di Jepang siapapun mereka selalu dianjurkan hidup dengan gaya penghindaran unsur 3 K yaitu Kanashii, Kiken, Kitsui yang artinya masing-masing Sedih, Bahaya, Keras atau jelasnya kotor.Membicarakan unsur “Kanashii” atau sedih, bisa dijelaskan bahwa sikap keseharian orang Jepang dalam hidupnya memang selalu menghindari hal-hal yang bisa membuat dirinya atau orang lain sedih, misalnya tidak memberi informasi secara jelas, tidak menepati janji, membingungkan, menganggu dan lain-lainnya.
Unsur yang dihindari lagi oleh orang Jeang yaitu melakukan tindakan “Kiken” atau bahaya. Mereka selalu berpikir sebelum melakukan suatu tindakan yang berbahaya selalu berusaha menguranginya atau meniadakannya, misalnya selalu mematuhi peraturan lalu lintas, membuat sistem-sistem keamanan segala sesuatu termasuk yang saat ini dibicarakan yaitu membuat rumah tahan gempa dan tindakan-tindaka lain walau tergolong kecil tetapi menghindarkan seseorang dari hal berbahaya, serta melakukan berbagai kegiatan dengan perlengkapan atau perlindungan khusus.
Hal yang ketiga yang juga dibenci oleh orang Jepang yaitu tindakan yang tergolong unsur “Kitsui” atau bekerja kasar yang penulis perjelas dengan kata “Kitanai” yang artinya kotor. Karena mereka tidak mau bersusah-susah dan melakukan hal yang memberatkan maka dari itu segala cara dipikirkan untuk menciptakan alat-alat atau sistem yang bisa memudahkan mereka melakukan hal untuk mencapai hasil yang baik. Secara sederhana, mereka selalu menjaga kebersihan tempat-tempat yang dipakai dan juga sampai memikirkan serius tentang persampahan yang jika dikelola dengan baik akan mendatangkan keuntungan lain misalnya produk-produk bernilai dan juga tentunya menciptakan pola sehat dalam hidup.
Sebenarnya membicarakan semangat bangsa Jepang dan tingkah laku hidup yang jauh dari 3 unsur tersebut diatas sangat komplek dan panjang, tetapi setidaknya rumus sederhana meniru bangsa Jepang yang penulis berikan membawa pengertian bahwa menciptakan bangsa yang bersemangat tinggi dan bertingkah-laku dengan baik dan benar untuk menuju terciptanya negara Indonesia yang semakin baik itu harus dimulai dari usia dini.
Hal yang perlu diperhatikan lagi, yaitu hal yang dianggap sedih, bahaya dan kotor oleh bangsa Jepang sering cenderung dianggap hal biasa atau wajar oleh bangsa Indonesia. Jika kewajaran seperti itu selalu ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia maka rumus apapun untuk meniru semangat positif bangsa Jepang tidak akan manjur.
Mendidik anak dengan baik dengan tidak memanjakan serta mengajar menjauhi unsur 3 K (Sedih, Bahaya dan Kotor) dan memenuhi hak-hak anak adalah cara yang wajib juga dilakukan untuk menuju bangsa yang maju dimasa depan.
Sampai usia taman-kanak biasanya anak-anak tersebut diajar lebih banyak cara-cara hidup dan bermain-main dengan segala jenis kemampuan, seperti meloncat, berlari dan juga kemampuan olahraga dasar lainnya. Bahkan pelajaran naik sepeda roda satu atau duapun juga diajarkan di Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak. Menurut para ahli di Jepang, kegiatan seperti itu dan juga berbagai kegiatan bermain yang menyenangkan dan bersemangat sangat dianjurkan diberikan kepada anak-anak sebelum masuk Sekolah Dasar untuk melatih kebebasan, karena dengan bermain mereka juga belajar. Singkatnya, si anak tanpa bermain atau kurangnya waktu dan jenis kegiatan maka akan menghambat perkembangannya. Hal inilah yang kelihatannya berbeda dengan cara mengajar dan mendidik anak di Indonesia, yang mana terlalu singkat sekali jam belajar di Taman Kanak-kanak dan kebanyakan diberi sikap manja dengan cara menunggui anak selama berada di sekolah. Di saat mengajar anak tersebut sering sekali baik orang tua anak di Jepang ataupun guru di Taman Kanak-kanak tidak langsung mengendong atau menolong bangun bila anak tersebut pada waktu bermain jatuh dan menangis, tetapi mereka akan membiarkan si anak bangkit dari jatuhnya sendiri dan belajar bersemangat dengan kekuatannya sendiri tanpa bergantung kepada orang yang ada di sekitarnya. Hal ini pula yang berbeda dengan sikap para orang tua dan guru Taman Kanak-kanak di Indonesia yang selalu memanjakan anak karena cepat merasa kasihan.
Jika membicarakan mengajar yang menyenangkan kepada anak, maka tidak terlepas dari kegiatan bernyanyi dan menari. Kebanyakan guru-guru Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak di Jepang disyaratkan harus bisa bermain alat musik khususnya piano. Diyakini juga oleh para ahli pendidikan anak di Jepang, dengan mengajar melatih anak mendengarkan musik dalam berkegiatan di sekolah, maka anak akan merasa bersemangat dan terlatih daya ingatnya dengan irama musik dan gerakan-gerakan yang menyertainya. Perbedaan seperti ini pula yang terlihat di Indonesia yang kebayakan guru TK tidak disyaratkan seperti itu tetapi malah dengan syarat yang lain seperti harus mampu bicara bahasa asing.
Menginjak usia Sekolah Dasar (SD), anak-anak Jepang lebih serius dididik dan disemangati sepanjang mereka belajar di sekolah. Dari segi materi pelajaran lebih banyak diajarkan tentang ilmu-ilmu dan dari segi pelajaran kemandirian dan semangat lebih ditekankan. Di Jepang, sistem masuk Sekolah Dasar diatur pemerintah, yang salah satunya siswa yang bersekolah di SD tertentu adalah anak-anak yang tinggal di sekitar komplek sekolah itu berada. Dengan begitu, anak-anak disyaratkan harus berangkat dan pulang dari sekolah berjalan kaki bersama teman-temannya yang rumahnya berdekatan. Siswa yang terbesar dalam kelompok itu ditunjuk sebagai pemimpinnya dan harus bertangggungjawab. Hal ini yang berbeda dengan cara bersekolah di Indonesia, yang mana banyak siswa yang sekolahnya berada jauh dengan rumahnya dan harus diantar oleh orang tuanya dan tidak jarang sampai di sekolah sudah capek dan kurang semangat.
Anak-anak usia Sekolah Dasar di Jepang juga selalu dituntut bersemangat, salah satunya selalu diberi ucapan bahasa Jepang “Gambatte Kudasai” yang artinya “Bersemangatlah” atau “Berusahalah” atau “Berjuanglah”. Kata-kata penyemangat seperti itu sudah menjadi kebudayaan Jepang yang mana siapapun, di manapun dan dalam suasana apapun selalu diucapkan untuk saling menyemangati dalam berusaha memperoleh hasil yang lebih baik. Apakah hal semacam ini juga bisa diterapkan di Indonesia atau malah saling menghambat untuk tujuan menonjolkan diri?
Kata-kata dan kegiatan menyemangati anak-anak Jepang tersebut tidak akan berhasil bila tidak ditunjang dengan suasana dan keadaan yang mendukungnya. Karena hal tersebut, pemerintah Jepang melalui Departemen Pendidikan meng-kampanye-kan suatu program kepada pelajar di Jepang, serta orang tua mereka. Program tersebut berbentuk slogan kata-kata “Hayane, Hayaoki, Asagohan” yang berarti “Tidur Cepat, Bangun Cepat, Makan Pagi”.
Program dan slogan seperti itu tahun ini di Perfectur Kyoto sangat menarik dibuatnya, yang mana pamphlet-nya disebarkan atau dibagikan dengan foto-foto dan pesan penyemangat dari para pemain sepakbola J-League yang terkenal seperti Nagatomo, Endo, Honda dan lainnya. Hal ini dimaksudkan ingin memberitahukan kepada anak-anak bahwa semangat dan kesuksesan mereka, yaitu para pemain sepakbola itu berkat melaksanakan program kedisiplinan dengan slogan tersebut. Suatu kebiasaan di Jepang jika seseorang sukses selalu membagikan pengalaman dan cara-cara mencapainya dengan semangat kepada anak-anak khususnya siswa Sekolah Dasar.
Kenapa Departemen Pendidikan Jepang sampai harus mengumandangkan slogan ”Hayane, Hayaoki, Asagohan”? Pertama, berdasarkan hasil survey yang menyatakan bahwa jumlah kejahatan anak dan remaja yang semakin banyak. Misalnya tahun 2004 terdapat 134.852 kasus kejahatan anak dan remaja. Selain itu juga dirasakan ritme kehidupan anak-anak yang semakin “ngawur”. Misalnya adanya balita yang tidur sesudah jam 10 malam jumlahnya semakin bertambah. Dalam survey tahun 1990 diketahui bahwa jumlah yang sebesar 31% itu, 10 tahun kemudian (th 2000) menjadi 50%. Jumlah murid SD yang tidak makan pagi juga dibandingkan 5 tahun sebelumnya terlihat penambahan yang mencolok.. Dari hasil survey masalah tersebut diketahui bahwa murid SD yang selalu makan pagi, tes atau ujiannya cenderung mendapat nilai yang tinggi. Demikian pula dengan hasil survey mengenai anak yang kurang tidur dan banyak begadang akan sulit bersemangat. Masalah seperti ini sangat serius ditangani oleh pemerintah jepang bekerjasama dengan guru dan orang tua murid. Apakah pemerintah Indonesia juga bisa tegas melaksanakan pendidikan dasar yang menumbuhkan semangat anak-anak Indonesia secara terus menerus?
Kelanjutan dari pemberian dan penumbuhan semangat kepada anak-anak Jepang, di Jepang siapapun mereka selalu dianjurkan hidup dengan gaya penghindaran unsur 3 K yaitu Kanashii, Kiken, Kitsui yang artinya masing-masing Sedih, Bahaya, Keras atau jelasnya kotor.Membicarakan unsur “Kanashii” atau sedih, bisa dijelaskan bahwa sikap keseharian orang Jepang dalam hidupnya memang selalu menghindari hal-hal yang bisa membuat dirinya atau orang lain sedih, misalnya tidak memberi informasi secara jelas, tidak menepati janji, membingungkan, menganggu dan lain-lainnya.
Unsur yang dihindari lagi oleh orang Jeang yaitu melakukan tindakan “Kiken” atau bahaya. Mereka selalu berpikir sebelum melakukan suatu tindakan yang berbahaya selalu berusaha menguranginya atau meniadakannya, misalnya selalu mematuhi peraturan lalu lintas, membuat sistem-sistem keamanan segala sesuatu termasuk yang saat ini dibicarakan yaitu membuat rumah tahan gempa dan tindakan-tindaka lain walau tergolong kecil tetapi menghindarkan seseorang dari hal berbahaya, serta melakukan berbagai kegiatan dengan perlengkapan atau perlindungan khusus.
Hal yang ketiga yang juga dibenci oleh orang Jepang yaitu tindakan yang tergolong unsur “Kitsui” atau bekerja kasar yang penulis perjelas dengan kata “Kitanai” yang artinya kotor. Karena mereka tidak mau bersusah-susah dan melakukan hal yang memberatkan maka dari itu segala cara dipikirkan untuk menciptakan alat-alat atau sistem yang bisa memudahkan mereka melakukan hal untuk mencapai hasil yang baik. Secara sederhana, mereka selalu menjaga kebersihan tempat-tempat yang dipakai dan juga sampai memikirkan serius tentang persampahan yang jika dikelola dengan baik akan mendatangkan keuntungan lain misalnya produk-produk bernilai dan juga tentunya menciptakan pola sehat dalam hidup.
Sebenarnya membicarakan semangat bangsa Jepang dan tingkah laku hidup yang jauh dari 3 unsur tersebut diatas sangat komplek dan panjang, tetapi setidaknya rumus sederhana meniru bangsa Jepang yang penulis berikan membawa pengertian bahwa menciptakan bangsa yang bersemangat tinggi dan bertingkah-laku dengan baik dan benar untuk menuju terciptanya negara Indonesia yang semakin baik itu harus dimulai dari usia dini.
Hal yang perlu diperhatikan lagi, yaitu hal yang dianggap sedih, bahaya dan kotor oleh bangsa Jepang sering cenderung dianggap hal biasa atau wajar oleh bangsa Indonesia. Jika kewajaran seperti itu selalu ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia maka rumus apapun untuk meniru semangat positif bangsa Jepang tidak akan manjur.
Mendidik anak dengan baik dengan tidak memanjakan serta mengajar menjauhi unsur 3 K (Sedih, Bahaya dan Kotor) dan memenuhi hak-hak anak adalah cara yang wajib juga dilakukan untuk menuju bangsa yang maju dimasa depan.
Comments
Post a Comment